Jumat, 11 Oktober 2013

Dunia Hanyalah Persinggahan




Al Arba'un An Nawawiyah
Hadits Ke 40
عَنْ ابْنِ عُمَرْ رضي الله عَنْهُمَا قَالَ : أَخَذَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم بِمَنْكِبَيَّ فَقَالَ : كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ . وَكاَنَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا يَقُوْلُ : إِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ .
[رواه البخاري]
Terjemah hadits / ترجمة الحديث :
Dari Ibnu Umar radhiallahuanhuma berkata : Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam memegang pundak kedua pundak saya seraya bersabda : Jadilah engkau di dunia seakan-akan orang asing atau pengembara “, Ibnu Umar berkata : Jika kamu berada di sore hari jangan tunggu pagi hari, dan jika kamu berada di pagi hari jangan tunggu sore hari, gunakanlah waktu sehatmu sebelum sakitmu sakitmu dan manfaatkanlah hidupmu untuk bekal matimu “
(Riwayat Bukhori, Ibnu Hibban dan Al Baihaqi)
Dalam riwayat lain Ibnu Umar ra, berkata :Rasulullah memegang kedua  bahuku dan bersabda: "Jadilah kamu di dunia seolah-olah orang asing atau orang lewat dan hitunglah dirimu termasuk penghuni kubur" (HR. Ahmad, At Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Al Baihaqi).
Dalam Hadits ini, Rasulullah saw, memberikan pelajaran agung. Beliau mencontohkan bagaimana menyampaikan nasihat sehingga tertanam dan diingat oleh orang yang diajar atau di beri nasihat. Sebelum menyampaikan nasihat, Rasul saw memegang bahu Ibnu Umar ra yang akan di beri nasihat. Hal itu menarik perhatian dan antusiasme Ibnu Umar ra dan membuat kondisi orang itu siap menerima nasehat. Cara itu menunjukkan kedekatan dan memberi pesan bahwa nasihat yang akan diberikan adalah penting serta di dasari oleh niat baik dan ketulusan. Dengan cara itu nasihat yang disampaikan akan bisa membekas, tertanam kuat dan mempengaruhi perilaku.
Nasihat yang disampaikan oleh Rasulullah merupakan pelajaran yang agung  bagaimana menyikapi dunia. Siapa yang mengambil nasihat itu tidak akan tertipu atau terperdaya dunia. 
Rasul berpesan agar seorang mukmin menganggap dirinya di dunia ini seperti orang yang lewat saja. Orang asing itu tidak memiliki tempat tinggal. Negeri twmpat ia berada bukanlah kampung halamannnya. Negeri itu hanya tempat untuk menyelesaikan keperluannya untuk kemudian pergi kekampunghalamannya. Begitu pula orang yang lewat dia akan terus berjalan meski terkadang singgah sebentar untuk sekedar berteduh atau mencari bekal, lalu melanjutkan perjalanan menuju tempat tujuannya . Jadi dunia ini bagi orang mukmin adalah tempat asing atau trmpat persinggahan saja. tempat tujuan atau kampung halaman bagi seorang mukmin adalah akhirat yakni Surga. Rasul menegaskan.
Tidak ada untukku dan untuk dunia ini sesungguhnya permisalan aku dan dunia itu hanyalah seperti orang berkendaraan yang sedang menempuh perjalanan, Lalu ia bernaung di bawah pohon pada hari yang panas, lalu ia beristirahat sejenak, kemudian meninggalkan pohon itu (HR Ahmad, al-Hakim, Abu Ya'la dan Ibnu Abi Syaibah)
 Ibnu Hajar al Ashqalani menyatakan dalam Fath al-Bari:
Dalam hal itu ada isyarat untuk mengambil dunia secukupnya saja. Layaknya seorang musafir, ia tidak memerlukan lebih dari apa yang ia buthkan sampai ke tujuan perjalanannya. Demikian seorang mukmin di dunia ini; ia tidak memerlkukan lebih dari apa yang mengantarkannya pada akhirat.
Yang lain berkata hadits ini merupakan pokok dalam mendorong untuk bersikap lapang dari dunia, zuhud di dunia, menganggap rendah dunia, qanaah di dunia dengan sekedar secukupnya saja. An Nawawi berkata, makna hadits itu adalah janganlah cenderung pada dunia; jangan menjadikan dunia sebagai kampung halaman; jangan bisiki dirimu untuk tetap didunia; jangan terkait hatimu dengan dunia, sebagaimana orang asing yang tidak terkait hatinya dengan sesuatu yang lain dengan sesuatu selain yang ada di kampung halamannya.
...
 Sungguh dunia ini bukanlah tempat untuk mengumpulkan kekayaan, mencari kemegahan, mengejar prestise dan menikmati segala bentuk kesenangan. Dunia ini hanyalah bekal menuju akhirat. Dunia ini hanyalah tempat untuk bercocok tanam, yang hasilnya di panen di Akhirat. Karena itu hendaknya setiap kita hanya menanami dengan amal-amal sholih agar kita menuai hasil keridhoan Allah dan surga di akhirat. Wallah a'la bi ash shawab [Yahya Abdurrahman]

0 komentar:

Posting Komentar